Rubah Mindset Kita?

You can be a victim of cancer, or a survivor of cancer. It’s a mindset.” ~ Dave Pelzer

Akal dan pikiran adalah keunggulan yang diberikan untuk manusia dan yang membuat derajat manusia lebih tinggi dari makhluk manapun di dunia ini. Ada juga mindset atau pola pikir kita sebagai manusia dalam menginterpretasikan sesuatu hal sebagai sebuah pedoman atau pegangan atau bisa disebut juga sebagai acuan dalam kehidupan kita. Mindset juga memiliki peranan penting dalam menentukan keberhasilan seorang manusia dalam meraih mimpi-mimpi besarnya.

Diibaratkan komputer, otak kita ini mungkin saja memiliki 100 miliar prosesor untuk mengolah segala macam informasi yang kita terima, juga untuk melakukan proses pengambilan keputusan yang berlandaskan logika dan analisa yang sangat kompleks. Oleh karena itu, kita sebagai manusia yang memiliki kemampuan yang luar biasa tersebut harusnya bisa menjadi insan yang unggul, karena pada dasarnya semua manusia dilahirkan dalam spesifikasi yang sama.

Terus apa yang dimaksud dengan rubah mindset kita?

Ok, no offense… Salah satu penyebab Indonesia menjadi negara yang tertinggal adalah karena pada umumnya masyarakat Indonesia memiliki pola pikir yang primitif! Banyak detil yang seharusnya bisa kita perhatikan dalam mendidik anak kearah yang jauh lebih baik lagi, selama ini para orang tua kita selalu menanamkan sugesti yang secara tidak sadar diri kita terbentuk menjadi pribadi yang tidak berani dalam hal mengambil resiko dan untuk bermimpi mengenai hal-hal yang besar.

Bagaimana kita bisa menjadi pribadi yang jauh lebih baik kalau bermimpi atau memiliki angan-angan saja kita takut? Nah, apa impian terbesarmu? Ingin jadi kaya raya? Ingin jadi milyuner? Ingin jadi presiden? Ingin jadi pebisnis handal? Itu semua sah-sah saja! Jadi gak perlu takut untuk bermimpi.

Imagination is more important than knowledge. For knowledge is limited to all we now know and understand, while imagination embraces the entire world, and all there ever will be to know and understand.” ~ Albert Einstein

Hal lainnya yang harus dirubah adalah ketakutan-ketakutan yang diberikan oleh orang tua kita dulu, seperti penggunaan kata “JANGAN” misal: “Jangan begitu nak nanti kamu begini loh..” atau “Jangan main hujan-hujanan nanti kamu sakit…” atau “Jangan kebanyakan makan es krim nanti kamu batuk…” dsb.

Pertanyaannya, apakah dengan main hujan-hujanan atau dengan banyak makan es krim kita pasti sakit? Belom tentu sobreeee.. Itu hanyalah ketakutan orang tua kita saja karena mereka sayang sama kita, disini gue bukannya mau mengajak untuk melawan orang tua kita, yang gue maksud disini adalah bagaimana seharusnya kita memfilter apapun yang kita terima. Nah, dengan banyaknya kata-kata jangan begini dan jangan begitu maka secara tidak sadar diri kita terbentuk menjadi pribadi yang takut akan hal ini dan itu, efek yang paling terasa adalah ketika dewasa kita menjadi takut untuk mengambil resiko dan selalu mencari titik nyaman yang tidak perlu banyak berusaha tetapi mendapatkan hasil. Apakah ada? Ask yourself…

Tak hanya itu, secara umum orang tua kita mengarahkan kita untuk berprestasi di sekolah, masuk perguruan tinggi ternama, lulus dengan peringkat terbaik, dan pada akhirnya bekerja keras sebagai karyawan di sebuah perusahaan. Untuk apa? Untuk menjadi pembantu orang lain dengan gimmick jabatan, tunjangan, dan gaji yang besar. Setelah kita sudah tidak bekerja lagi maka kita juga tidak akan mendapatkan pemasukan lagi.

Adakah orang tua kita yang mengarahkan kita untuk think out of the box, mungkin dengan menanamkan jiwa kewirausahaan dalam diri kita, dan membentuk sudut pandang yang berpotensi untuk memudahkan kita meraih kesuksesan? Gue yakin ada, tapi gak banyak! Kenapa? Karena kita kelamaan dijajah sobreee! Mental masyarakat kita adalah mental orang-orang dijajah, yang berpikirnya adalah untuk bekerja bukan untuk menciptakan pekerjaan.

Gak ada yang salah sih dari pemikiran tersebut, tapi mau sampe kapan kita bekerja keras – banting tulang – peras keringat tapi yang diuntungkan adalah orang lain. Achievement yang kita dapat tidaklah 100% untuk diri kita, tapi untuk perusahaan. Lihat fakta ini, pekerja (karwayan) memiliki tanggungan pajak sebesar 40%, seseorang yang memiliki pekerjaannya sendiri seperti dokter dan pengacara memiliki tanggungan pajak sebesar 50%, sementara seorang pebisnis atau pemilik perusahaan (yang mempekerjakan karyawan) memiliki tanggungan pajak sebesar 20% daaaaaannnn seorang investor memiliki tanggungan pajak sebesar 0% !!!! (sumber: Robert T. Kiyosaki – Cashflow Quadrant)

Pebisnis dan investor adalah orang-orang yang kalian untungkan dari kepintaran kalian dan semua kerja keras kalian sebagai karyawan di sebuah perusahaan. Tidak ada yang salah dari menjadi seorang karyawan, tapi untuk kalian yang memiliki mimpi yang besar, cobalah pertimbangkan kesempatan yang ada dan cobalah berani untuk mengambil resiko.

Selain itu, mayoritas masyarakat Indonesia memiliki jiwa pesimis yang cukup tinggi, sebagai contoh “ah gue kayanya gak sanggup deh buat beli barang itu..” atau “ah kayanya gue gak bisa ngelakuin hal itu..” dsb. Dalam arti lain ente kalah sebelum masuk ke zona perang, dan secara tidak sadar dengan menanamkan rasa tersebut kalian berarti menutup pintu kesempatan untuk menjadi bisa dengan pendapat seperti itu. Dengan begitu otak kita pun secara tidak sadar akan tertutup dari segala macam ide yang bisa mengarahkan kita untuk mencapai impian tersebut. Dan ini benar, kurangi penggunakan kata TIDAK di hari-hari kalian. Bilang pada diri kalian kalau apapun yang sudah ada buktinya (orang lain bisa lakukan) maka kita JUGA BISA LAKUKAN ITU!!!! Mungkin KITA JUGA BISA JAUH LEBIH BAIK DARI MEREKA!!!

Itu yang gue maksud dari rubah mindset kita, rubah pola pikir kita, rubah sudut pandang kita. Jangan remehkan kekuatan pikiran yang kita miliki atau dalam kata lain the power of mind. Tingkatkan keyakinan atas kemampuan yang kita miliki, ingat manusia dilahirkan SAMA!!! Yang membuat kita beda dengan yang lainnya adalah prosesnya dan bagaimana pemikiran serta sudut pandang kita dalam melihat hal-hal lainnya.

Berani ambil resiko? Atau lebih baik mati dengan penyesalan tanpa tau banyak? Keputusan ditangan kalian, penyesalan takkan merubah apapun. Ambil kesempatan sebanyak mungkin selagi ada dan bisa, lakukan dengan baik dan jalani dari hati, dan yakin semua pasti ada manfaatnya. Jangan habiskan waktu untuk membuat diri kita takut akan hal-hal baru, keluarlah dari zona nyaman dan lihat kesempatan yang ada. See every detail from what was happened in our life…

Dengan tulisan ini bukan berarti gue adalah manusia yang paling oke dalam hal keberanian untuk mengambil resiko dan kesempatan, tulisan ini juga merupakan pengingat untuk diri gue yang masih sama dengan kebanyakan orang, semoga dengan ke-sok-tauan gue ini bisa merubah pola pikir banyak orang, dan semoga orang-orang tersebut bisa mencapai semua mimpinya.

Mari bergerak, bangsa ini harus bisa maju, mari rubah mindset kita supaya menjadi manusia yang bisa melakukan banyak hal dan semoga kita bisa menjadi manusia yang bisa meraih mimpi-mimpi kita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s