Dibalik Pria dan Keegoisan Dirinya…

I’m selfish, impatient, and a little insecure. I make mistakes, I’m out of control, and at times hard to handle. But if you can’t handle me at my worst, then you sure as hell don’t deserve me at my best. ~ Marilyn Monroe

Egois, adalah sebuah kata yang umumnya sering ditujukan kepada seorang Pria. Pria terlahir dengan keegoisan, Pria selalu mendahulukan kepentingannya, bla bla bla. Stop, sebelum persepsi tersebut berlanjut mari pisahkan ke dalam dua golongan, pertama orang yang egois untuk dirinya sendiri (dalam artian hanya mengedepankan kepentingannya sendiri) dan kedua orang yang egois karena kepentingan orang lain atau ada maksud hal tertentu yang dia pikir akan jauh lebih baik.

Kenapa mostly yang dikatakan egois itu mayoritas adalah kaum laki-laki? – Karena laki-laki dilahirkan dan diciptakan untuk menjadi seorang Imam, dan karena laki-laki berpikir menggunakan logika, dan karena laki-laki memiliki insting untuk melakukan atau mengejar suatu hal yang diyakini baik untuk (minimal) dirinya dan mungkin untuk orang yang dikasihinya, bahkan orang-orang disekitarnya.

Disini saya akan berbicara mengenai keegoisan golongan kedua, yaitu orang yang egois karena kepentingan orang lain atau ada maksud hal tertentu yang dia pikir akan jauh lebih baik. Adalah golongan orang-orang yang memiliki pola pikir jauh kedepan. Keegoisan terkadang dibutuhkan untuk mencapai suatu pencapaian, yang dibutuhkan dalam proses yang mana tanpa keegoisan maka hal-hal tersebut mungkin akan sulit dicapai atau mungkin akan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk bisa tercapai. Nanti saya akan berikan contohnya.

Sebelum saya bicara lebih dalam ada hal yang harus kita samakan dalam melihat kata egois, yaitu jangan melihat kata egois secara subjektif, tapi cobalah melihat secara objektif, karena yang kita bahas disini adalah keegoisan golongan kedua bukan yang pertama. Kita gak usah ambil contoh yang terlalu kompleks, ambil saja yang sering terjadi di kehidupan kita salah satunya adalah dalam hal percintaan. Coba inget-inget berapa kali diri kita (laki-laki) disebut sebagai orang yang egois oleh pasangan kita?

Saya contohkan diri saya sendiri, bukan sekali dua kali saya disebut sebagai orang yang egois dalam hal menjalani percintaan. Terutama terhadap hal yang berkaitan dengan waktu, baik itu dalam waktu ketemu dengan pasangan, maupun waktu untuk berkomunikasi, dan sebagainya. Saya rasa bukan cuma saya yang pernah mengalami hal ini, ketika waktu yang saya luangkan lebih banyak untuk urusan pekerjaan. Untuk anda para wanita, pernahkah anda bertanya kepada pasangan anda (para pria) mengapa mereka sangat egois dalam waktu? Apakah kalian pernah berbicara heart-to-heart kepada pasangan kalian? Kalaupun pernah apakah kalian bisa memahami alasan dari pasangan anda?

Saya rasa para wanita akan sulit bisa sejalan dengan pemikiran para pria dalam hal pembagian waktu, dimana para wanita haus akan perhatian dan secara otomatis menuntut waktu lebih untuk bisa ketemu lebih intense atau cuma sekedar ngobrol di telepon. Itu wajar, karena dasarnya wanita berpikir disertai perasaan sementara pria berpikir menggunakan logika. Sekarang saya tanya, lebih efisien mana berpikir yang disertai perasaan atau berpikir dengan logika? Kenapa saya tanya masalah efisien? Karena kita bicara mengenai waktu dan kaitannya dengan keegoisan seorang pria yang selalu mendahulukan kepentingannya (dalam konteks ini adalah pekerjaaannya) dibanding waktu untuk pasangannya.

Wahai para wanita, ini adalah intuisi para pria bahwa mereka memang ditakdirkan untuk menjadi pemimpin di muka bumi. Apa sih tanggung jawab seorang pemimpin itu, terutama pemimpin di dalam rumah tangga atau seorang Imam yang dijelaskan dalam Islam? Mari berpikir rasional tentang apa kaitannya dengan waktu dan keegoisan seorang pria. Tentunya tak sedikit wanita yang pernah mengucapkan “kamu itu selalu gak punya waktu buat aku” atau “kamu itu bisa gak sih sedikit aja ngeluangin waktu buat aku” atau “aku pikir aku penting buat kamu ternyata enggak” atau lagi “aku susah banget untuk bisa ngerasa kamu ada buat aku” dan sebagainya. Saya yakin kalimat-kalimat tersebut tidaklah asing di dalam dunia percintaan kita.

Yap saya setuju dengan statement “tapi kan laki-laki juga harus punya waktu buat keluarga (pasangan dsb), gak harus melulu pekerjaan”, saya setuju sekali karena tidak ada yang jauh lebih baik apabila semua aspek bisa berjalan seirama sehingga tidak ada yang merasa dirugikan. Tapi di dalam kehidupan kita selalu dihadapkan dengan pilihan bukan? Terutama kepada para laki-laki yang (akan atau sudah) merupakan ujung tombak dari keluarga. Dengan tanggung jawab yang besar akan kewajiban-kewajiban yang harus mereka penuhi sesuai dengan syariat agama.

Oke sekarang kita bahas, pembahasan ini akan saya lakukan berdasarkan pengalaman dan pengamatan saya, jadi ini juga belum tentu benar, akan tetapi setidaknya bisa membuat kita paham apa yang bisa kita lakukan bila mengalami kondisi seperti ini. Pertama kita tahu bahwa tugas utama seorang laki-laki adalah untuk mencari nafkah, dibalik proses mencari nafkah ini ada banyak poin yang harus dicapai oleh tiap laki-laki untuk bisa mencukupi keluarganya. Salah satunya adalah dengan perjuangan untuk mencari ilmu dan pengalaman.

Dalam proses tersebut tidaklah mudah, proses tersebut adalah proses yang cukup menyita waktu, tenaga, dan pikiran. Sekali lagi waktu terlibat disini, karena itu kebanyakan para laki-laki mengalahkan waktunya untuk fokus kesini supaya nantinya dia bisa membahagiakan anak dan istrinya di kemudian hari. Seperti yang kita ketahui bahwa mencari uang saat ini cukup sulit, dibutuhkan skill yang tinggi untuk bisa bersaing, tak hanya keahlian dalam suatu bidang pekerjaan saja, tetapi keahlian dalam tata bicara, kepemimpinan, dan sebagainya juga dibutuhkan oleh seorang laki-laki untuk bisa menjadikan dirinya melesat bak roket yang bisa terbang tinggi ke angkasa.

Selain itu umumnya laki-laki bertindak dengan menggunakan skala prioritas (hal yang lazim bila keputusan diambil menggunakan logika) dalam hal menentukan mana yang harus didahulukan dan mana yang bisa ditahan terlebih dahulu. Banyak yang bilang keluarga lebih penting dari pekerjaan, namun untuk bisa menghidupi sebuah keluarga tentunya butuh pekerjaan yang baik bukan? Kalau dituntut untuk menjawab mana yang lebih penting tentunya keluarga adalah hal yang utama, tetapi kita juga tidak bisa mengenyampingkan pekerjaan yang mana dari situlah kita bisa mendapatkan uang. Kedua hal itu saling berhubungan, antara keluarga dan pekerjaan, antara pasangan dan perjuangan untuk mencapai kemapanan, untuk itu para laki-laki menyikapi hal tersebut dengan menggunakan prioritas tergantung dengan kondisi yang dihadapi saat itu.

Yang perlu diketahui oleh para wanita adalah sebenarnya laki-laki itu butuh support atau dukungan secara moril bahwa apa yang mereka lakukan itu untuk keluarganya atau untuk pasangannya. Yang mungkin hasilnya akan bisa dirasakan cepat atau lambat. Kesabaran dan kedewasaan dalam berpikir dibutuhkan untuk bisa memahami mana yang sebenarnya egois dan mana yang sebenarnya bisa ditoleransi. Tentunya tidak juga dengan mengorbankan begitu banyak waktu untuk tidak bercengkrama dengan keluarga atau pasangan. Masuk akal bukan?

Sekarang coba tanya kepada diri anda (para wanita), apakah anda mengidamkan kehidupan yang layak? Tentunya iya bukan? Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ketepian. Saya yakin bila para pria yang kalian sayangi bekerja dan mengorbankan waktunya untuk suatu hal yang sifatnya merupakan kewajiban mereka maka manfaatnya nanti kalian juga yang akan merasakan. Jadi janganlah terjebak dengan model percintaan anak ABG yang maunya tiap hari harus ada waktu untuk bisa jalan kesana kesini.

Saya adalah seorang laki-laki yang paham benar bahwa wanita butuh waktu untuk merasakan kasih sayang, bermanja-manja, hal-hal yang terkait dengan pleasure seperti jalan-jalan – nonton – shopping – dsb, hingga waktu untuk ngobrol mendengarkan keluh kesah kalian atas apa yang kalian alami, dsb. Tetapi ingat, laki-laki juga punya prioritas yang harus didahulukan, tentunya itu merupakan sebuah pilihan, dan dimana pilihan itu diputuskan maka harus ada hal yang dikorbankan. Pahamilah logika itu dan cobalah lebih lunak kepada laki-laki yang anda sayangi dan bersabarlah. Tentunya kalian pasti bisa menilai dan melihat apa yang pasangan kalian jalani dan bagaimana perkembangan result-nya.

Laki-laki memanglah egois, akan tetapi tidak semua keegoisan kami hanya serta merta untuk kepentingan kami sendiri. Kami sadari bahwa tanggung jawab kami teramat besar untuk keluarga kami baik yang sudah memiliki keluarga maupun kelak yang akan berkeluarga. Untuk itu berikanlah kami sedikit kelonggaran untuk bisa bersaing di dalam kehidupan ini, berilah dukungan kepada kami supaya kami bisa melesat dan kelak bisa membahagiakan kalian dengan kehidupan yang layak. Yakinlah kepada kami bahwa misi kami tak lebih dari untuk mengangkat derajat dan martabat orang-orang yang kami sayangi dan kami cintai. Pahamilah cara kami berpikir bahwa kami juga memiliki keterbatasan dan tidak bisa melakukan banyak hal sekaligus. Mengertilah bahwa apa yang kami perjuangkan adalah untuk kalian dan apa yang kami lakukan adalah atas nama tugas dan tanggung jawab yang harus kami emban dengan sebaik mungkin.

Yuk kita tanya pada diri kita sendiri sebelum kita menghakimi apa yang pasangan kita perbuat, untuk para pria apakah yang kalian jalankan itu baik untuk diri kalian dan keluarga atau pasangan? Untuk para wanita apakah perjuangan yang pasangan kalian lakukan harusnya kalian beri dukungan dan apresiasi atau tidak, dan apakah kalian bisa bersabar dalam prosesnya? Jangan generalisasi keegoisan pasangan kita sebagai sebuah hal yang benar-benar masuk ke dalam kategori “egois” itu sendiri. Tapi coba gali apa yang pasangan kita lakukan dan untuk apa mereka melakukan hal tersebut serta apakah waktu yang kalian korbankan bersama itu worth atau tidak.

Dibalik Kesuksesan seorang pria, pasti ada wanita hebat dibelakangnya. Jadilah seorang wanita hebat untuk pria yang anda kasihi. Dukunglah dia dan lihatlah bahwa dengan keikhlasan dan dukungan yang kuat maka kami para pria sanggup untuk menghadapi kerasnya persaingan dalam kehidupan ini.

 

Semoga bermanfaat…

Advertisements

7 Comments

  1. it’s the matter of time. aku juga lagi belajar untuk ga ngacungin telunjuk ke suamiku bahwa dia “egois” walopun dipikiran kadang terbersit kayak gitu..

    thx so much, tulisan ini nambahin ilmuku bahwa aku juga “harus bekerja keras” ngumpulin kesabaran ampe level atas, dan harus belajar menggembok “sensitif nya rasa ke-perempuan-an” ku demi lelaki yang udah menemukanku sbg rusuknya.

    membiasakan menerima kalimat “gak ada apa apa, semua baik baik aja”,padahal aku ngerasa ada “smth happn”..dan atas nama logika, tulisan ini make sense.

    dibalik pria hebat ada wanita hebat..dan aku mau menjadi wanita hebat itu

  2. tapi jangan nutup mata juga, banyak laki-laki yang udah di dukung habis-habisan, si perempuannya udah ngertiin dan mengalahkan ego mereka demi mendukung orang yang dicintainya, pas targetnya tercapai, malah lupa diri, jadi kacang lupa kulit. kesuksesan itu candu. pria bisa bilang nanti kalau target aku sudah tercapai aku janji akan ngeluangin waktu buat kamu dan keluarga, tapi setelah tercapai, yang ada apa? ingin mencapai target yang lebih tinggi lagi kan? begitu aja terus sampe tua, pas pensiun baru berhenti. tapi pas saat itu juga seorang pria baru sadar “gue ga deket ya sama keluarga sendiri” “anak-anak gue gak akrab ya sama gue” “kerjaan dan temen-temen yang selalu gue prioritasin ga ada ya buat gue pas gue udah tua dan ga punya power kayak sekarang”. terkadang pria harus sering-sering bertanya pada diri sendiri juga, apakah memprioritaskan pekerjaan dan teman-teman itu buat keluarganya apa karena dia emang seneng jadi orang yang dipandang banyak orang (gengsi pribadi) dan seneng dieluh-eluhkan banyak orang. kalau niatnya emang teguh dari awal sampai akhir sih bagus ya. makanya harus mawas diri juga pria “yang katanya” egois buat kepentingan orang lain. saya bilang gini bukan tanpa dasar, saya merasakan sendiri punya seorang ayah yang kebangetan sibuk dan saya juga pernah ngerasain pacaran sama pria yang juga kebangetan sibuk sama kerjaan dan teman-temannya, sudah dingertiin malah jadi kacang lupa kulit di akhir.

    • setuju, kalau sudah begitu tinggal balik lagi ke akhlak si suami. kalau ego disertai gengsi dan pride maka tidaklah ada yg baik didapat kecuali hanya kesia-siaan belaka..

  3. Kalo ini mah saya setuju banget…bener kata penulis,,tp klo egois tipe 1 itu yg ngeselin..knapa ga d bahas mas??

  4. apa yg dikatakan penulis ada benar nya jg, tp apa semua pria begitu??
    apa mungkin pasangan saya melakukan itu, tp jika emg iya knpa harus menjauhi saya???

  5. Laki laki yang selalu berkata kalau dia lah orang yang paling benar… Merasa hebat..
    Karena merasa diri nya yang paling baik…
    Itu lah egois nya laki laki….!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s